Jumat, 05 Desember 2008

Bahagia Sejati

BAHAGIA SEJATI

Jalanilah nasibmu dengan penuh kesyukuran,tak usah kau risaukan.Manakala kesunyian menyergapmu,tak perlu gelisah,mengapa? Isi saja setiap harimu dengan makna.
memberi arti bagimu,juga orang-orang disekitarmu.

Usah terbayang,jalanmu lurus dan lapang.Sebab terkadang untuk sampai ujungnya harus kau lalui bebukit terjal,jeram, juga ngarai. Namun sejatinya dimanakah bahagiamu ? tak perlu dirisaukan mengapa ? Berjalan saja.

Bukankah ada keindahan kau temui di bebukit? Saat kamu di puncaknya seluasnya pandangan,tertumbuk dimana?
Pekatnya kabut bagaimana berhasil melalui ?
Amboi.. kengerian pun berbuah takjub.Mulutmu ternganga,tiada henti menyebut kebesaranNya.

Engkau terengah mendakituruni tebing ? kucur peluhmu tertebus manakala kau selesaikan.Tak sempatkah menengok barang sekejap, keangkuhan jeram dan riaknya yang jatuh menderu menertawakanmu ? Bahagiakah yang main kecipaknya ? Meski ada perih manakala airnya menerjuni punggung.Namun tawa terlepas juga.
Sakitkah ?
Bahagia?

Lalu engkau memandang ngarai.Dan dalam perjalanan yang tiada henti angin bertiup menelusuri tubuhmu.Dan hijau daun melambai bergoyang lembut.
Pucuk-pucuk daun teh bahkan menantang untuk dipetik.Perempuan-perempuan bertopi adalah sahabatnya.
Setiap kali ia berseru,” Datanglah,
Petiklah aku
Saat esok kau temui
Aku mekar kembali”

Tersenyumlah,perjalanan panjang adalah bahagiamu untuk sampai pada yang sejati.
Kegelisahan hanyalah sesal sesaat,meracuni waktumu, dan menjadi duri dalam jiwamu.
Mengapa?
Sebab tak perlu ada perih apabila setiap perihnya adalah nikmatmu.
Berjalanlah tegap,terus saja.
Sebab waktu Dia yang punya.
Berjalanlah terus.
Dia yang kan hentikan.
Sidoarjo,2 Des 2008